"Untuk menjadi optimis memang bukan jalan yang mudah, mengingat kondisi tiap orang berbeda. Tapi yang penting optimisme harus tetap ada, walaupun jurang itu di depan kita, tinggal kita mau atau tidak untuk menyeberanginya."
(Jeremy, 28 th, penderita kanker otak)

Pengobatan yang pertama anda pilih jika diketahui terkena kanker adalah:
 

Mohon Perhatian

Untuk kepentingan sosial, seluruh artikel di Rumah Kanker boleh dikutip dan dipublikasi ulang dengan menyebutkan sumbernya. Sebuah email pemberitahuan dapat mewakili penghargaan anda kepada kami. Tetapi penggunaan untuk kepentingan komersial harus mendapatkan ijin terlebih dahulu. Anda bisa menggunakan form kontak untuk menghubungi kami.
 

Manfaatkan informasi dalam Rumah Kanker secara bijaksana. Gunakan artikel sebagai pelengkap, bukan pengganti konsultasi, keterangan, dan nasehat dokter. Anda tetap harus bertatap muka langsung dengan dokter. Konsultasi online tidak memadai untuk diagnosa penyakit dan menentukan pengobatan yang tepat.

Silakan Masuk



Kami menjaga privasi Anda.

Bezuk

Ada 24 Tamu berkunjung
Anda pengunjung ke : 651505
Rumah Kanker
Peran Relawan Dalam Perawatan Paliatif Bookmark and Share

Siapakah yang disebut relawan dalam perawatan paliatif itu? Relawan adalah seseorang yang:

  • Sama dengan pasien, dan bukan ahli dalam perawatan kesehatan.
  • Tidak berseragam tetapi berbusana harian.
  • Bisa seorang bapak, ibu, suami, istri, atau orang lain –siapa saja.
  • Mempunyai waktu dan bersedia untuk mendengarkan.
  • Bersedia hadir untuk memberikan perhatian sepenuhnya kepada pasien.
  • Dapat membantu melakukan sesuatu pada pasien.
  • Dapat mendengarkan keluh kesah pasien atau bersedia diajak berbicara apa saja kecuali mengenai penyakit, bila pasien tidak menghendakinya.
  • Bersedia mengantar pasien berjalan-jalan walaupun menggunakan kursi roda.
  • Bersedia membantu pasien saat makan.
  • Selalu menghormati kerahasiaan pasien.
Batasan-batasan bagi relawan:
  • Bila menemui keadaan darurat segera menghubungi dokter.
  • Tidak memberi komentar atas perawatan.
  • Menjadi pendengar yang baik dengan memberi kesempatan pada pasien atau keluarganya untuk menyampaikan masalahnya.
  • Menghormati privasi pasien dan keluarganya.
  • Meninggalkan masalah pribadinya pada saat mengunjungi pasien.
  • Memperlakukan pasien dan keluarganya dengan pantas selayaknya seorang pribadi.

Relawan perawatan paliatif adalah bagian dari tim perawatan paliatif dari berbagai disiplin perawatan dan harus bertindak serta diperlakukan dengan pantas selayaknya anggota tim lainnya. Agar dapat melakukan tugas-tugasnya sesuai harapan, relawan perlu mendapatkan pelatihan-pelatihan yang memadai.

To Treat The Patient

Manusia adalah makhluk psiko-bio-sosio-kultural-spiritual. Unsur-unsur jiwa, badan, lingkungan, dan spiritual berada dalam suatu keseimbangan. Jika salah satu unsur terganggu maka unsur-unsur lain akan terganggu juga. Oleh karena itu jika aspek psiko-sosio-spiritual terganggu, fungsi tubuh dapat terganggu juga, yang sering dirasakan sebagai keluhan somatik atau penyakit psikosomatik.

Masalah-masalah psikososial, masalah budaya, dan spiritual, dapat menyebabkan bahkan menimbulkan rasa sakit, yang tidak dapat disembuhkan dengan obat sebanyak apa pun kecuali masalah psikososial yang mendasarinya ditemukan dan diselesaikan.

Perawatan paliatif menerapkan prinsip perawatan holistik atau secara menyeluruh kepada pasien, yang menyangkut keseluruhan aspek bio-psiko-sosio-kultural-spiritual. Jadi penekanannya bukan to treat the disease tapi to treat the patient.

Tindakan perawatan holistik ini tidak mungkin seluruhnya dilakukan oleh dokter atau perawat saja, karena dokter dan perawat memiliki keterbatasan tenaga. Di sinilah dibutuhkan peran relawan paliatif.

Jadi relawan paliatif berkarya di luar masalah perawatan medis dan kuratif. Karya relawan terutama pada bidang dukungan spiritual, membantu mengatasi masalah sosial dan budaya, masalah psikologis, bahkan masalah yang berhubungan dengan keluarga. Relawan juga berfungsi sebagai jembatan penghubung antara pasien-dokter maupun pasien-keluarga.

Agar dapat melakukan tugasnya dengan baik, relawan perlu melakukan pendekatan kepada pasien, dan pendekatan ini butuh waktu. Relawan harus sering mengunjungi dan berkomunikasi dengan pasien, tidak terbatas hanya pada waktu yang dianggap perlu untuk mengunjunginya. Kunjungan semacam inilah yang tidak dapat dilakukan oleh dokter maupun perawat.

Kendala yang dialami oleh relawan dalam melakukan tugasnya adalah keterbatasan waktu dan tenaga. Apalagi, saat ini di Pusat Pengembangan Paliatif & Bebas Nyeri RSU Dr. Soetomo hanya ada dua orang relawan yang aktif dan dapat melaksanakan tugas sebagaimana mestinya.

Untuk mengatasi kendala ini, Pusat Pengembangan Perawatan Paliatif & Bebas Nyeri RSU Dr. Soetomo Surabaya memberikan pelatihan kepada kader-kader PKK se-Kodya Surabaya. (Th. Max Koesbagyo/rumahkanker.com)

* Disampaikan pada Seminar Strategi Berperang Melawan Kanker yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Paliatif & Bebas Nyeri RSU Dr. Soetomo – FK Unair Surabaya, 17 Februari 2007, diupload dengan seijin penulisnya.

 
Telur Antikanker Bookmark and Share
Kelompok ilmuwan Roslin Biocentre Institute, pusat penelitian Inggris yang pernah mengkloning domba Dolly, kembali melahirkan terobosan. Para ilmuwan di sana berhasil mengembangkan ayam betina yang bisa menghasilkan telur antikanker.

Hingga kini, lima generasi ayam "istimewa" dihasilkan para ilmuwan institut di Edinburgh, Skotlandia, itu. Melalui modifikasi genetik, protein telur yang dihasilkan ayam-ayam tersebut diharapkan mengandung zat antikanker, yakni miR24, antibodi pencegah kanker kulit, dan b-1a, interferon manusia yang berfungsi menghentikan replikasi sel kanker. Selanjutnya, zat tersebut akan diekstraksi dan dimurnikan sebelum digunakan sebagai bahan obat antikanker.

"Salah satu karakter menonjol dari perawatan medis saat ini adalah biayanya yang sangat mahal," kata Profesor Harry Griffin, direktur Roslin Biocentre Institute, seperti dikutip British Broadcast Corp.

Menurut dia, alasan utama dipilihnya ayam sebagai media penghasil zat antikanker dalam proyek tersebut adalah murah. Di samping produksi telurnya cukup banyak, harga makanan ayam sangat terjangkau.

Para ilmuwan itu menyebutkan bahwa antibodi monoklonal dan protein sistem kekebalan manusia menjadi dua unsur utama obat antikanker yang dikembangkan. Antibodi monoklonal merupakan protein sistem kekebalan buatan yang hanya bisa diciptakan melalui proses laboratorium. Karena itu, pembuatan obat antikanker tersebut tidak mudah.

"Sebagian besar protein yang mengandung unsur pengobatan (terapeutik) seperti antibodi monoklonal itu, dihasilkan dalam industri bioreaktor. Tapi proses tersebut membutuhkan waktu sangat lama serta biaya yang tidak murah," kata salah seorang ilmuwan yang terlibat dalam proyek itu. Kendati sudah ada sekitar 500 ayam yang dimodifikasi, obat antikanker yang diharapkan, agaknya, baru bisa dihasilkan satu dekade lagi.

Untuk menyiasatinya, ilmuwan Roslin Biocenter Institute menyulap ayam menjadi pabrik sekaligus laboratorium proyek mereka. Sebab, zat-zat yang dibutuhkan juga diproduksi secara alami di dalam tubuh hewan ternak, termasuk ayam. Dr. Helen Sang, pemimpin proyek, berharap agar zat-zat penting yang dibutuhkan dalam penelitian tersebut bisa tepat terbentuk dalam putih telur ayam.

Menurut Sang, ayam dipilih karena siklus hidupnya yang cenderung lebih pendek dibandingkan hewan ternak lain. "Sekali Anda berhasil menciptakan ayam transgenik, langkah selanjutnya sangatlah mudah. Pasalnya, dari seekor ayam jantan, Anda bisa memperoleh ratusan anak ayam. Setidaknya, sebuah telur bisa Anda dapatkan tiap hari," lanjut Sang yang menggeluti proyek tersebut selama 15 tahun.

Proyek terbaru Roslin Biocenter Institute tersebut diawali dengan penyisipan gen ke dalam ovalbumin, protein utama pembentuk putih telur. Selanjutnya, mereka menyuntikkan virus ke dalam embrio ayam yang masih sangat muda. Materi genetik virus tersebut dimasukkan ke dalam DNA embrio itu. Setelah telur-telur tersebut menetas, protein yang dibutuhkan para ilmuwan itu terbentuk di dalam air mani anak ayam jantan.

Langkah selanjutnya adalah mengawinkan ayam-ayam jantan tersebut dengan betina normal. Para ilmuwan itu berharap, telur yang dihasilkan ayam-ayam transgenik tersebut mengandung zat-zat yang mereka butuhkan. Hingga saat ini, mereka masih menunggu hasil itu.

 
Terapi Nutrisi Dan Herbal Untuk Kanker Bookmark and Share
Sampai detik ini penyakit kanker menjadi ancaman, sementara obat spesifik untuk menghentikan perkembangan sel kanker belum juga ditemukan. Toh upaya pencegahan terus diusahakan dengan terapi radiasi dan sitostatika.

Namun sebagian penderita lebih memilih terapi alternatif. Guna menakar besarnya manfaat dan risiko terapi alternatif, sangat diperlukan pemahaman tentang cara kerja terapi alternatif, termasuk penggunaan suplemen makanan (senyawa antioksidan serta vitamin mineral) dan preparat herbal yang dapat bekerja melawan kanker.
Selengkapnya...
 
Penanganan Kanker Stadium Lanjut Bookmark and Share

Strategi “perang” melawan kanker yang terbaik ialah dengan pencegahan seperti juga pada penyakit-penyakit lain. Tetapi apabila hal ini telah dikerjakan, namun masih juga terserang penyakit kanker, maka seyogyanya penyakit itu secepatnya diketahui dengan melaksanakan upaya-upaya deteksi dini. Karena bila penyakit itu diketemukan dalam stadium dini, maka pengobatan akan memberikan hasil yang lebih baik. Dengan kata lain, prosentase kesembuhan akan lebih tinggi.

Pengobatan penyakit kanker dapat dengan pembedahan , dengan memberikan obat-obat antikanker (yang disebut kemoterapi), ataupun dengan penyinaran yang disebut radioterapi . Sering juga diberikan kombinasi dari ketiga cara pengobatan itu.

Tetapi kalau penyakit kanker itu telah dalam stadium lanjut, atau telah menyebar luas ke berbagai bagian tubuh, maka sulitlah –bahkan dapat dikatakan tidak mungkin– untuk disembuhkan, sekalipun dengan teknologi kedokteran yang canggih.

Seringkah Diketemukan Penderita Penyakit Kanker Stadium Lanjut?

Ironisnya, sebagaimana telah dilaporkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia, lebih dari 50% penderita kanker datang pertama kali untuk berobat sudah dalam stadium lanjut. Sedangkan angka kejadian atau insidens penyakit kanker di Indonesia adalah 0,1% dari jumlah penduduk.

Mengapa kebanyakan penderita kanker datang terlambat untuk berobat? Banyak faktor penyebabnya, antara lain:

  • Pada stadium dini sering tidak disadari oleh penderita bahwa ia sedang menderita penyakit kanker. Karena gejala pada stadium dini sering tidak khas dan tidak menakutkan.
  • Kalau penyakit kanker sudah mulai menyebar ke kelenjar getah bening yang menyebabkan timbulnya benjolan, masih juga kurang mendapat perhatian, atau kadang-kadang berpendapat bahwa hal itu “dibuat” (disantet) oleh orang yang bermaksud jahat terhadap penderita.
  • Bila penderita mengerti bahwa penyakit itu bukan penyakit biasa, seringkali penderita takut memeriksakan diri karena takut dioperasi.
  • Yang juga sering terjadi, penderita sadar bahwa penyakit itu bukan penyakit biasa, dan tidak takut meskipun ada kemungkinan dioperasi, tetapi biaya untuk berobat sering menjadi kendala. Untunglah sekarang sudah ada program “maskin” yang sangat membantu penderita yang kurang beruntung (tidak mampu).

Akibat itu semua, maka penderita baru datang untuk berobat setelah dirasakan penderitaannya mengganggu atau menakutkan, misalnya nyeri, pendarahan, sesak nafas, dan sebagainya.

Penderitaan Penderita Kanker Stadium Lanjut

Makin lanjut stadiumnya akan memberikan penderitaan yang makin berat. Kadang-kadang penderitaan itu tidak tertahankan oleh penderita. Karena beratnya penderitaan yang dideritanya, ia nekad mencoba bunuh diri. Penderitaan itu tidak saja dirasakan oleh penderita sendiri, tetapi juga oleh keluarganya.

Mengapa tidak kita tingkatkan upaya dengan terus mempergunakan berbagai cara untuk dapat menyembuhkan? Bila sembuh penyakitnya tentu penderitaannya juga akan hilang!

Kalau kanker itu sudah menyebar ke berbagai bagian tubuh atau ke berbagai organ tubuh kita, sebagaimana dikatakan tadi tidak mungkin lagi disembuhkan. Kalau kita terus mengupayakan dengan berbagai cara pengobatan dengan harapan dapat sembuh, yang kita dapatkan ialah bertambahnya penderitaan. Karena upaya kita akan menyebabkan penderitaan datang dari dua sumber:

  • Sumber pertama dari penyakitnya sendiri yang memang tidak mungkin disembuhkan dan akan tetap memberikan penderitaan.
  • Sumber kedua akibat dari upaya kita. Pengobatan kanker dengan cara apa pun selalu memberikan efek samping yang menyebabkan penderita tidak nyaman. Pembedahan dan pasca bedah tentu akan menyebabkan nyeri . Efek samping kemoterapi dan radioterapi juga akan membuat penderita tidak nyaman, antara lain mual, muntah , dan sebagainya.

Karena hal-hal tersebut, maka penderita akan tambah menderita dan akhirnya meninggal dalam penderitaan yang berat.

Apakah Strategi Kita Bila Kanker Sudah Dalam Stadium Lanjut?

Kalau saja anggota keluarga kita ada yang menderita demikian, atau kalau Anda pernah melihat betapa berat penderitaannya, kalau saja Anda pernah mendengar rintihannya atau bahkan jeritannya, saya percaya Anda tidak akan sampai hati membiarkannya.

Tetapi tentunya tidak cukup hanya merasa iba tanpa berbuat sesuatu. Marilah kita berbuat sesuatu untuk menolong saudara kita yang menderita itu. Marilah kita memberikan terang kepada saudara kita yang telah jatuh ke dalam kegelapan penuh derita. Marilah kita berbuat sesuatu untuk mengembalikan iman saudara kita yang telah tergoncang atau bahkan hilang akibat penderitaan yang berat.

Tetapi apa yang akan kita perbuat? Dalam keadaan seperti ini hanyalah perawatan paliatif yang dapat dikerjakan secara manusiawi, realistik, dan rasional.

Apakah Perawatan Paliatif Itu?

Kalau perawatan paliatif belum Anda kenal, bahkan Anda belum pernah mendengarnya, itu dapat dimengerti. Karena memang perawatan paliatif merupakan bentuk pelayanan kesehatan yang relatif baru di Indonesia. Kebijakan perawatan paliatif ini baru dicanangkan pemerintah, dalam hal ini Departemen Kesehatan Republik Indonesia, dengan diterbitkannya SK Menkes RI nomor 604/MENKES/SK/IX/1989. Sedangkan pelayanan perawatan paliatif untuk masyarakat baru dimulai pada tanggal 19 Februari 1992.

Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization; WHO) memberikan definisi perawatan paliatif sebagai berikut (2005):

Paliative Care is an integrated system of care that: improves the quality of life, by providing pain and symptom relief, spiritual and psychosocial support from diagnosis to the end of life and bereavement.
Terjemahan bebasnya kira-kira sebagai berikut:
Perawatan paliatif adalah sistem perawatan terpadu yang meningkatkan kualitas hidup, dengan meringankan nyeri dan penderitaan lain, memberikan dukungan spiritual dan psikososial mulai saat diagnosa ditegakkan sampai akhir hidup, dan dukungan terhadap keluarga yang merasa kehilangan.
Sedangkan di dalam buku Pedoman Penanggulangan Kanker Terpadu Paripurna yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1997) didapatkan falsafah yang mendasari pelaksanaan perawatan paliatif, sebagai berikut:
Menjadi hak semua pasien untuk mendapatkan perawatan yang terbaik sampai akhir hayatnya. Penderita kanker yang dalam stadium lanjut atau tidak berangsur-angsur sembuh perlu mendapat pelayanan kesehatan sehingga penderitaannya dapat dikurangi. Pelayanan yang diberikan harus dapat meningkatkan kualitas hidup yang optimal, sehingga pasien dapat meninggal dengan tenang dalam iman.

Dalam definisi dan falsafah yang mendasari perawatan paliatif, disebut-sebut selain masalah fisik –misalnya nyeri– juga masalah psikologis, sosial, dan spiritual. Hal ini didasarkan kepada: manusia sebenarnya tidak hanya terdiri dari unsur fisik saja, tetapi juga psikologis, sosial, kultural, dan spiritual. Berbagai unsur ini saling berhubungan dan saling memperngaruhi. Karenanya bila salah satu unsur ini mengalami gangguan, maka unsur lainnya akan ikut terganggu. Sebenarnya hal ini telah lama sebelumnya diajarkan kepada kita.

“Dalam tubuh manusia itu terdapat segumpal daging. Jika bagus (segumpal daging itu), maka bagus jugalah seluruhnya (jiwa, pikiran, perilakunya). Tapi jika buruk (segumpal daging itu), maka buruk jugalah seluruhnya (jiwa, pikiran, perilakunya). Ketahuilah, bahwa ia (segumpal daging itu) adalah HATI.”
                                        -Hadist
(Sumber: Rizal Ibrahim. Keajaiban Hati. DIVA Press. Cetakan III. Jan 2007)

Konsep Penderitaan Total

Sebagaimana telah dikatakan di atas, bahwa manusia tidak hanya terdiri dari unsur fisik saja yang dapat kita lihat, tetapi masih banyak lagi unsur-unsur yang membentuk manusia seutuhnya. Karena tidak nampak jelas seperti unsur fisik, unsur-unsur itu sering tidak diperhatikan bahkan diabaikan.

Unsur-unsur yang membentuk manusia itu seperti telah disinggung di atas, yakni: fisik, psikologis , sosial, kultural dan spiritual. Unsur-unsur ini saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Contoh: masalah-masalah psikologis, sosial, kultural, dan spiritual dapat menyebabkan nyeri fisik atau memperberat nyeri fisik. Dalam hal ini tidak ada satupun obat anti nyeri yang dapat memperingan apalagi menghilangkan nyeri yang dirasakan penderita, kecuali bila pada saat yang sama kita tangani juga masalah-masalah dari berbagai unsur tesebut. Demikian pula sebaliknya.

Contoh di atas merupakan suatu kenyataan yang menggarisbawahi betapa pentingnya untuk mengevaluasi berbagai masalah itu dan menanganinya secara simultan. Untuk dapat melaksanakan ini dibutuhkan suatu tim dari individu-individu dengan berbagai keahlian yang saling mendukung, yang disebut tim interdisiplin.

Ke dalam tim ini harus dimasukkan penderita dan keluarganya. Justru sebenarnya penderita adalah anggota tim yang utama. Karena penderitalah yang berhak pertama kali mengetahui tentang penyakitnya dan pengobatan apa yang akan diberikan padanya. Ia pula yang berhak menentukan pengobatan mana yang akan diterima dan mana yang ditolak, setelah mendapatkan informasi yang jelas.

Tanpa tim yang mampu melaksanakan perawatan total (total care) atau perawatan holistik (holistic care) seperti ini, yang merupakan persyaratan dalam pelaksanaan perawatan paliatif, tidak mungkin kita akan meningkatkan kualitas hidup penderita dan keluarganya.

Kasih Dalam Perawatan Paliatif

Kasih, mau tidak mau harus kita akui sebagai suatu aspek penting dalam perawatan paliatif, bahkan lebih penting dari penanganan nyeri yang merupakan salah satu hal yang mutlak harus dilaksanakan. Perwujudan kasih akan nampak dalam perawatan paliatif pada hal-hal seperti: kasih dalam merespon kebutuhan-kebutuhan seseorang. Kasih akan nampak pula dalam pelaksanaan pendampingan dan momen-momen lain keberadaan kita bersama penderita yang dilakukan dengan penuh perhatian.

Ini semua tak lain merupakan bentuk pernyataan kasih sayang yang merupakan inti dari altruistic love, kasih sayang yang mengutamakan kepentingan orang lain (altrui = orang lain). Namun demikian, kasih sayang yang demikian itu tidak perlu meniadakan kepedulian terhadap diri sendiri.

Marilah kita melihat sejenak arti kasih dan berbagai bentuk perwujudannya, yang secara sadar atau tidak, pernah kita alami.
    Kasih antara sepasang insan.
    Kasih kepada orang tua kita.
    Kasih kepada anak.
Masih banyak lagi kasih yang pernah kita alami dalam arti dan perwujudannya yang berbeda-beda. Lalu apakah arti kasih dalam pelaksanaan perawatan paliatif? Kasih yang mendasari pelaksanaan perawatan paliatif mempunyai arti kepedulian.

Kasih yang berarti kepedulian dapat berupa:
•    Kepedulian pada diri sendiri
Menyebabkan kita mampu mengenal dan mencintai diri sendiri. Kita akan mengetahui kekuatan dan kelemahan yang kita miliki. Dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, maka individu itu dapat selalu menampilkan diri yang dapat diterima oleh siapapun di lingkungan di mana ia berada.
•    Kepedulian terhadap masyarakat
Karena kepeduliannya terhadap masyarakat, sering individu tersebut dalam upayanya berbuat suatu kebaikan untuk masyarakatnya mendapat cemoohan dan ejekan.

Kepedulian adalah deskripsi kasih sayang seseorang yang muncul akibat adanya rasa ketidaktegaan melihat keadaan atau penderitaan seseorang. Kemudian timbul dorongan dalam diri kita untuk membantu orang lain yang sedang menderita.

Kepedulian sesunguhnya merupakan ungkapan ketulusan atau pengorbanan tanpa pamrih. Seseorang yang mencoba mengulurkan tangan saat melihat kendaraan orang lain mogok di perjalanan tidaklah diartikan sebagai upaya menarik simpati orang. Tetapi semata-mata murni ungkapan kasih sayang pada sesama.

Kalaupun akibat bantuan tersebut, orang yang dibantu merasa simpati, itu hal lain. Yang pasti bantuan yang diberikan merupakan panggilan hati yang telah mengusik pikiran dan perasaan seseorang akan kesusahan orang lain. Kepedulian sebagai wujud kasih sayang memang harus dilandasi oleh ketulusan. Jika tidak, ia hanya sebuah ungkapan semu yang tidak bermakna. Kalau kita membantu orang lain tanpa ketulusan, ada yang terlintas dalam pikiran ingin mendapat imbalan atau pujian dari orang lain. Apabila hal ini tidak terjadi, timbullah kekecewaan.

Ketulusan adalah kata lain dari keikhlasan. Ikhlas adalah kekuatan yang mampu menyuntikkan sindroma ketenangan jiwa. Keikhlasan menjadikan kita sebagai manusia yang pandai bersyukur atas apa yang telah diberikan Tuhan kepada kita, sehingga ada kebahagiaan yang menyelimuti gerak dan langkah kita. Ada kepuasan batin ketika apa yang kita miliki memberikan manfaat pada orang lain.

Habis manis sepah dibuang

Sebenarnya dengan berkembangnya pelayanan kesehatan ke arah yang makin baik, maka kita sekarang telah melakukan intervensi medis terhadap manusia pada awal kehidupannya, yakni semasa manusia itu masih di dalam kandungan ibunya, dengan pelayanan ante natal yang bertujuan (Acuan Pelayanan Maternal dan Neonatal, 2002):

  • Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi.
  • Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, sosial ibu dan bayi.
  • Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan, dan pembedahan.
  • Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat baik Ibu maupun bayinya, dengan trauma seminimal mungkin.
  • Mempersiapkan ibu agar nifas berjalan normal dan dapat memberikan ASI eksklusif.
  • Mempersembahkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.
Dari tujuan-tujuan tersebut di atas, maka kita mengerti semua itu dilakukan antara lain untuk mempersiapkan awal kehidupan yang berkualitas. Atau dengan kata lain kita mempersiapkan manusia itu untuk memulai kehidupan di dunia ini dengan baik.

Kemudian bayi itu tumbuh sebagai anak yang sehat, dan selanjutnya menjadi orang dewasa yang sehat. Manusia ini dapat dipastikan pernah berbuat kebaikan atau jasa, paling sedikit untuk keluarganya, atau bahkan untuk masyarakat, bangsa, dan negaranya. Mengapa saat manusia ini menjadi tidak berdaya karena penyakitnya, tidak menjadi perhatian kita?

Sangatlah tidak adil, apabila kita tidak menyiapkan manusia ini untuk memulai kehidupannya di akhirat, seperti yang kita lakukan pada waktu manusia ini akan mulai dengan kehidupan di dunia.

Janganlah habis manis sepah dibuang!

Marilah kita persiapkan dan kita hantarkan mereka yang sudah tidak berdaya itu untuk memasuki pintu kehidupan akhirat dengan baik, dengan melakukan perawatan paliatif. (Sunaryadi Tejawinata/rumahkanker.com)

* Makalah disampaikan pada Simposium Awam dan Citra Pesona Paliatif, Hyatt Regency Hotel Surabaya, 17 Februari 2007, oleh Prof. R. Sunaryadi Tejawinata, dr., SpTHT(K), FAAO, PGD, Pall Med (ECU), diupload dengan seijin penulisnya.
 
Diet Kanker Sesuai Golongan Darah Bookmark and Share
Bertahun-tahun telah lewat sejak kita duduk di bangku sekolah dasar, saat kita pertama kali mendapatkan pelajaran tentang konsep makanan empat sehat lima sempurna. Konsep yang membagi makanan sehat menjadi lima komponen besar ini (karbohidrat, sayur-mayur, buah-buahan, sumber protein, dan susu) ini terus-menerus  mendapatkan pengulangan dan tertanam lebih dalam melalui pelajaran-pelajaran di jenjang sekolah berikutnya, keluarga, media massa, dan juga dokter saat kita sakit.

Saat mengidap kanker, pelajaran mengenai makanan empat sehat lima sempurna lagi-lagi terulang, kali ini dengan sedikit variasi di sana-sini. Kalangan medis umumnya tetap bertahan pada prinsip empat sehat lima sempurna ini, dengan tambahan “Hindari makanan yang dibakar, makanan berjamur, mengandung pengawet, pewarna, perasa buatan, minyak jelantah, ayam negeri, dan telur ayam negeri. Lainnya boleh dan diperlukan untuk mempertahankan daya tahan tubuh.”

Kalangan naturopati memperkenalkan konsep vegetarian, yakni pengidap kanker tidak boleh memakan daging apa pun (kecuali ikan, bila dirasa perlu), termasuk telur dan susu. Alasannya, produk-produk hewani membuat pH tubuh menjadi asam –suatu kondisi yang sangat disukai kanker untuk tumbuh subur. Konsep ini pun sudah cukup luas diterima para pejuang kanker, khususnya yang menempuh pengobatan secara nonmedis, umumnya dikombinasikan dengan diet a la medis.

Beberapa pengobat kanker juga memberikan daftar dietnya masing-masing, yang umumnya tetap berpedoman pada prinsip empat sehat lima sempurna dengan variasi di sana-sini, yang garis besarnya telah terangkum dalam artikel Diet Bagi Pejuang Kanker (1).

Dr. Peter D'AdamoTetapi Dr. Peter D’Adamo melalui bukunya Diet Sehat Golongan Darah Untuk Mencegah dan Mengobati Kanker memberikan teori yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Ahli naturopati dari AS ini mengingatkan, tiap orang memiliki golongan darah yang berbeda karena darahnya mengandung antigen yang berbeda juga. Seseorang yang memiliki golongan darah A misalnya, jika ditransfusi dengan darah bergolongan B, maka tubuhnya akan menolak dengan mengeluarkan antibodi untuk melawan darah baru tersebut. Demikian juga seseorang yang hendak menjalani transplantasi organ tubuh, perlu diteliti segala sesuatunya untuk memastikan organ yang akan dicangkokkan benar-benar cocok dengan kondisi si penerima, sehingga tidak menimbulkan reaksi penolakan yang dapat berakibat fatal.

Teori itu diterapkan oleh Dr. Peter D’Adamo pada makanan. Ia menyatakan bahwa tiap jenis makanan juga mengandung antigen-antigen tertentu (disebut lektin) yang cocok bagi golongan darah tertentu, tetapi belum tentu cocok bagi golongan darah lain. Dengan dasar pemikiran ini, menjadi tidak masuk akal baginya kalau setiap orang di seluruh dunia harus menjalani diet yang sama mengikuti prinsip empat sehat lima sempurna.

Dr. Peter D’Adamo kemudian menyusun suatu daftar makanan yang boleh atau tidak boleh dikonsumsi oleh seseorang bergolongan darah A, B, AB, maupun O. Dari daftar ini, ia kemudian membuat daftar yang lebih spesifik lagi, yaitu daftar makanan yang boleh atau tidak boleh dikonsumsi oleh penderita penyakit tertentu berdasarkan golongan darahnya. Salah satunya ya buku Diet Sehat Golongan Darah Untuk Mencegah dan Mengobati Kanker ini.

buku Diet Sehat Golongan Darah untuk KankerDalam buku tersebut, makanan yang boleh dikonsumsi oleh masing-masing golongan darah masih dibedakan lagi menjadi makanan Super Bermanfaat, yaitu makanan yang mempunyai khasiat kuat dan spesifik untuk melawan kanker, kemudian makanan Bermanfaat, yaitu makanan yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh, kesehatan metabolik, maupun kesehatan struktural; makanan Netral yang boleh sering dikonsumsi untuk pemenuhan zat gizi, dan makanan Netral yang hanya boleh dikonsumsi sesekali saja. Selebihnya adalah makanan yang harus dihindari.

Bukan hanya makanan pokok yang ada daftarnya dalam buku ini, tetapi juga berbagai sayur-mayur, buah-buahan, biji-bijian, kacang-kacangan, bumbu-bumbu, minyak, bahkan juga minuman, dan vitamin/suplemen yang boleh atau tidak boleh dikonsumsi. Sangat menarik dan mencerahkan membaca mengenai teori baru yang masuk akal dengan daftar yang begitu lengkap.

Walaupun dinyatakan buku-buku Dr. Peter D’Adamo telah diterjemahkan ke dalam 50 bahasa, kita tetap harus waspada. Karena teori baru tentang makanan yang dikembangkannya mulai tahun 1990-an ini belum didukung publikasi mengenai riset-riset yang telah dilakukan. Dr. Peter D’Adamo belum pernah mempublikasikan riset mengenai zat-zat yang terkandung dalam bahan makanan tertentu, maupun riset dan uji klinis mengenai kecocokan suatu bahan makanan terhadap suatu golongan darah. Benarkah riset dan uji klinis itu ada? Kapan dilakukan, di mana, oleh siapa, berapa dan siapa pesertanya, serta bagaimana hasilnya?

Apalagi kalau menilik sebagian dari diet yang dianjurkan justru merupakan kebalikan dari diet konvensional yang telah lama dikenal. Contohnya untuk golongan darah O, Dr. Peter justru menganjurkan daging merah sebagai makanan super bermanfaat, sebaliknya menganjurkan menghindari sumber-sumber karbohidrat. Menyikapi hal seperti ini kita harus berhati-hati, memantau perkembangan secara cermat, karena kalau ada kesalahan kesehatan kita yang menjadi taruhannya.

Sayangnya, daftar makanan yang ada di buku ini mengacu pada daftar makanan yang ada di Amerika. Banyak di antara bahan-bahan yang disebutkan yang tidak dikenal di Indonesia, sebaliknya sangat banyak makanan sehari-hari di Indonesia yang tidak disebutkan di sana. Mari kita tunggu ahli naturopati Indonesia yang ikut menerapkan dan mempromosikan buku ini menambahkan daftar makanan asli Indonesia ke dalamnya. (Titah Rahayu/rumahkanker.com)
 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 1 dari 12
Tahukah Anda?

MENGAPA ORANG INDONESIA SAKIT KANKER?

"Indonesia sangat kaya tanaman berkhasiat antikanker, jauh lebih kaya daripada Cina, dan lebih bagus mutunya. Tetapi mengapa angka kejadian kanker di Indonesia lebih tinggi daripada Cina? Karena orang Indonesia suka sekali makan gorengan..."

(Prof. Dr. Li Peiwen, ahli kanker & obat tradisional senior Cina.)

Masalah Psikologi Pada Penderita Kanker

Pengobatan holistic atau holistic medicine didasarkan atas dua hal yaitu pengobatan fisik dan pengobatan psikis dan keduanya sanga [ ... ]


Mengatasi Masalah Buang Air Besar

Banyak di antara para pejuang kanker yang dalam perkembangan penyakitnya mengalami masalah dalam buang air besar (BAB). Diperkirak [ ... ]


Penanganan Keluhan Selain Nyeri

  Simptom (keluhan) yang timbul pada penderita kanker dapat disebabkan oleh penyakit dasarnya, baik secara langsung (misalnya [ ... ]