"Untuk menjadi optimis memang bukan jalan yang mudah, mengingat kondisi tiap orang berbeda. Tapi yang penting optimisme harus tetap ada, walaupun jurang itu di depan kita, tinggal kita mau atau tidak untuk menyeberanginya."
(Jeremy, 28 th, penderita kanker otak)

Pengobatan yang pertama anda pilih jika diketahui terkena kanker adalah:
 

Mohon Perhatian

Untuk kepentingan sosial, seluruh artikel di Rumah Kanker boleh dikutip dan dipublikasi ulang dengan menyebutkan sumbernya. Sebuah email pemberitahuan dapat mewakili penghargaan anda kepada kami. Tetapi penggunaan untuk kepentingan komersial harus mendapatkan ijin terlebih dahulu. Anda bisa menggunakan form kontak untuk menghubungi kami.
 

Manfaatkan informasi dalam Rumah Kanker secara bijaksana. Gunakan artikel sebagai pelengkap, bukan pengganti konsultasi, keterangan, dan nasehat dokter. Anda tetap harus bertatap muka langsung dengan dokter. Konsultasi online tidak memadai untuk diagnosa penyakit dan menentukan pengobatan yang tepat.

Silakan Masuk



Kami menjaga privasi Anda.

Bezuk

Ada 53 Tamu berkunjung
Anda pengunjung ke : 1459796
Imunoterapi Kanker, Bukan Hanya Vaksin Bookmark and Share

Sistem kekebalan tubuh manusia bekerja dengan cara mendeteksi dan menyerang sel-sel asing yang masuk ke dalam tubuh. Dengan cara ini banyak bibit penyakit segera dikenali dan dilumpuhkan sebelum membuat orang yang bersangkutan sakit, atau sebelum penyakitnya bertambah parah. Celakanya, menghadapi sel-sel kanker sistem kekebalan tubuh bersikap “tenang-tenang saja”, karena kanker yang tumbuh di dalam tubuh manusia itu sendiri dianggap bukan sel asing yang berbahaya.

Imunoterapi yang merupakan teknik pengobatan baru untuk kanker, yang mengerahkan dan lebih mendayagunakan sistem kekebalan tubuh untuk memerangi kanker. Karena hampir selalu menggunakan bahan-bahan alami dari makhluk hidup, terutama manusia, maka imunoterapi sering juga disebut bioterapi atau terapi biologis.

Sekalipun merupakan bagian dari tubuh dan karenanya oleh sistem kekebalan tubuh dianggap tidak berbahaya, sel kanker memproduksi zat-zat (antigen) tertentu yang seharusnya tidak ada (tidak cocok dengan sel tempat tumbuhnya/lingkungannya, atau hanya diproduksi sel sehat pada fase-fase tertentu, misalnya pertumbuhan). Antigen-antigen inilah yang menjadi “sasaran tembak” imunoterapi.

Perlu diketahui, jenis sel yang bekerja pada sistem kekebalan tubuh antara lain sel darah putih: limfosit dan fagosit. Ada berbagai jenis limfosit, yaitu limfosit B (sel B) yang memproduksi antibodi untuk mengenali dan menyerang antigen asing; limfosit T (sel T) yang memproduksi sitokin untuk menggalang seluruh kekuatan sistem kekebalan tubuh dan juga memproduksi sitotoksik yang bisa membunuh sel asing, sel terinfeksi, atau sel ganas; dan limfosit NK (sel NK –natural killer) yang langsung mengikat dan membunuh sel asing, sel terinfeksi, atau sel ganas dengan cepat, bahkan pada “sentuhan pertama”.

Sedang fagosit adalah sel darah putih yang bisa memakan dan mencerna berbagai organisme dan partikel kecil di dalam tubuh. Ada beberapa jenis fagosit, di antaranya monosit yang berada dalam sistem peredaran darah, serta makrofag yang tersebar di seluruh jaringan tubuh.

Imunoterapi kanker berupaya membuat sistem kekebalan tubuh mampu mengalahkan keganasan sel-sel kanker, dengan cara meningkatkan/mengarahkan reaksi kekebalan tubuh terhadap sel kanker,  atau mengembalikan kemampuan tubuh dalam menaklukkan kanker (body response modifiers –BRM).

Sejauh ini ada beberapa jenis imunoterapi yang telah dikembangkan, antara lain:

Interferon

Interferon, khususnya interferon alfa, adalah obat imunoterapi pertama yang digunakan untuk mengobati kanker. Sitokin ini sebenarnya juga diproduksi dalam tubuh, tetapi jumlahnya kecil. Selain langsung menyerang sel kanker, interferon alfa juga dapat menghentikan pertumbuhan kanker atau mengubahnya menjadi sel normal. Diduga interferon juga merangsang kerja sel NK, sel T, dan makrofag; serta mengurangi suplai darah ke sel kanker.

Biasanya interferon alfa digunakan untuk mengobati leukemia, melanoma, kanker ginjal, myeloma, Kaposi’s sarcoma, dan non Hodgkin’s lymphoma.

Antibodi Monoklonal

Antibodi monoklonal dibuat di laboratorium khusus untuk melawan antigen tertentu. Karena tiap jenis kanker mengeluarkan antigen yang berbeda, maka berbeda pula antibodi yang digunakan.

Antibodi monoklonal juga dapat mempengaruhi cell growth factors, karenanya dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan sel-sel tumor. Jika dipadu dengan radioisotop, obat kemoterapi, atau imunotoksin, setelah menemukan antigen yang dicari antibodi monoklonal langsung membunuh sel pembuatnya (kanker).

Beberapa jenis antibodi monoklonal yang banyak dipergunakan antara lain rituximab (untuk non-Hodgkin’s lymphoma), trastuzumab (kanker payudara yang sudah menyebar), alemtuzumab (leukemia limfositik kronis), bevacizumab (kanker usus besar), cetuximab (kanker usus besar), gemtuzumab ozogamicin (leukemia myelogenik akut), ibritumomab tiuxetan (non Hodgkin’s lymphoma). Antibodi monoklonal untuk berbagai jenis kanker lainnya sedang dalam tahap uji klinis.

Vaksin

Saat ini penggunaan vaksin kanker baru saja dimulai. Sebagian besar masih dalam tahap penelitian dan uji klinis, sehingga belum bisa digunakan secara umum.

Berbeda dengan vaksin pada umumnya yang diberikan sebagai pencegahan pada orang yang sehat, pada penderita kanker vaksin digunakan sebagai pengobatan. Vaksin tersebut merangsang sistem kekebalan tubuh manusia untuk mampu mengenali sel-sel kanker, menghentikan pertumbuhannya, mencegah kekambuhannya, dan membersihkan sisa-sisa kanker dari pengobatan operasi, kemoterapi, atau radiasi. Jika diberikan dalam tahap dini, vaksin kanker dapat membuatnya sembuh secara total.

Sedang vaksin yang difungsikan sebagai pencegah kanker, sebenarnya adalah vaksin untuk melawan virus penyebab penyakit yang dapat menjurus ke kanker, misalnya vaksin hepatitis B (kanker hati) dan vaksin human papilloma virus (kanker leher rahim).

Colony-stimulating Factors (CSFs)

CSFs kadang disebut juga hematopoietic growth factors. Obat imunoterapi jenis ini merangsang sumsum tulang belakang untuk membelah dan membentuk sel darah putih, sel darah merah, maupun keping darah, yang kesemuanya berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh.

Pengobatan dengan CSFs penting bagi penderita kanker yang menjalani pengobatan lain, misalnya kemoterapi, karena obat-obat kemoterapi umumnya juga merusak sumsum tulang belakang, yang menyebabkan penderita mengalami kurang darah (anemia), mudah terkena infeksi, dan sering mengalami perdarahan. CSFs dapat mengurangi resiko tersebut.

Obat-obat yang tergolong hematopoietic growth factors antara lain:

  • G-CSF (filgrastim) dan GM-CSF (sargramostim) untuk meningkatkan jumlah sel darah putih pencegah infeksi dan sel induk untuk kepentingan transplantasi sumsum tulang belakang.
  • Erythropoietin (EPO) untuk meningkatkan sel darah merah, mencegah anemia.
  • Interleukin-2 (aldesleukin) untuk meningkatkan limfosit yang dapat menghancurkan sel kanker.
  • Interleukin-11 (oprelvekin) untuk meningkatkan jumlah keping darah dan mencegah perdarahan.

Terapi Gen

Terapi gen yang masih bersifat eksperimental ini memberi harapan besar. Dengan memasukkan material genetik tertentu ke dalam sel tubuh penderita kanker, perilaku sel tubuh orang tersebut bisa dikendalikan sesuai kebutuhan. Misalnya, jika gen tertentu diselipkan ke dalam sel kekebalan tubuh, maka sistem kekebalan tubuh menjadi lebih mampu mengenali dan menyerang sel kanker.

Bisa juga diselipkan gen yang membuat sel kanker lebih mudah dideteksi dan dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh. Atau, kedalam tubuh penderita dimasukkan sel kanker yang telah diberi gen pembentuk sitokin, yang akan mengaktifkan sistem kekebalan tubuh untuk menyerang dan menghancurkan sel-sel kanker.

Pengobatan Alternatif

Masih banyak jenis imunoterapi lain yang bersifat meningkatkan sistem kekebalan dan kesehatan tubuh secara umum, tidak hanya khusus untuk melawan kanker. Salah satunya adalah BCG (Bacille Calmette-Guérin). Vaksin TBC yang biasa diberikan pada bayi baru lair ini bukan golongan vaksin kanker, tetapi merupakan salah satu perintis imunoterapi untuk kanker. Biasanya diberikan bersama-sama dengan kemoterapi, radiasi, atau imunoterapi jenis lain. Fungsi utamanya meningkatkan kekebalan tubuh, tetapi dapat juga menyembuhkan kanker kandung kemih.

Berbagai bahan makanan dan pengobatan alternatif, khususnya pengobatan tradisional,  juga bekerja mengobati kanker dengan prinsip imunoterapi. Coba tanyakan kepada dokter Anda, jenis imunoterapi mana yang paling cocok untuk Anda. (Titah Rahayu/rumahkanker.com)

 
Tahukah Anda?

MENGAPA ORANG INDONESIA SAKIT KANKER?

"Indonesia sangat kaya tanaman berkhasiat antikanker, jauh lebih kaya daripada Cina, dan lebih bagus mutunya. Tetapi mengapa angka kejadian kanker di Indonesia lebih tinggi daripada Cina? Karena orang Indonesia suka sekali makan gorengan..."

(Prof. Dr. Li Peiwen, ahli kanker & obat tradisional senior Cina.)