"Untuk menjadi optimis memang bukan jalan yang mudah, mengingat kondisi tiap orang berbeda. Tapi yang penting optimisme harus tetap ada, walaupun jurang itu di depan kita, tinggal kita mau atau tidak untuk menyeberanginya."
(Jeremy, 28 th, penderita kanker otak)

Pengobatan yang pertama anda pilih jika diketahui terkena kanker adalah:
 

Mohon Perhatian

Untuk kepentingan sosial, seluruh artikel di Rumah Kanker boleh dikutip dan dipublikasi ulang dengan menyebutkan sumbernya. Sebuah email pemberitahuan dapat mewakili penghargaan anda kepada kami. Tetapi penggunaan untuk kepentingan komersial harus mendapatkan ijin terlebih dahulu. Anda bisa menggunakan form kontak untuk menghubungi kami.
 

Manfaatkan informasi dalam Rumah Kanker secara bijaksana. Gunakan artikel sebagai pelengkap, bukan pengganti konsultasi, keterangan, dan nasehat dokter. Anda tetap harus bertatap muka langsung dengan dokter. Konsultasi online tidak memadai untuk diagnosa penyakit dan menentukan pengobatan yang tepat.

Silakan Masuk



Kami menjaga privasi Anda.

Bezuk

Ada 21 Tamu berkunjung
Anda pengunjung ke : 1471503
Rumah Kanker
Diet Kanker Sesuai Golongan Darah Bookmark and Share
Bertahun-tahun telah lewat sejak kita duduk di bangku sekolah dasar, saat kita pertama kali mendapatkan pelajaran tentang konsep makanan empat sehat lima sempurna. Konsep yang membagi makanan sehat menjadi lima komponen besar ini (karbohidrat, sayur-mayur, buah-buahan, sumber protein, dan susu) ini terus-menerus  mendapatkan pengulangan dan tertanam lebih dalam melalui pelajaran-pelajaran di jenjang sekolah berikutnya, keluarga, media massa, dan juga dokter saat kita sakit.

Saat mengidap kanker, pelajaran mengenai makanan empat sehat lima sempurna lagi-lagi terulang, kali ini dengan sedikit variasi di sana-sini. Kalangan medis umumnya tetap bertahan pada prinsip empat sehat lima sempurna ini, dengan tambahan “Hindari makanan yang dibakar, makanan berjamur, mengandung pengawet, pewarna, perasa buatan, minyak jelantah, ayam negeri, dan telur ayam negeri. Lainnya boleh dan diperlukan untuk mempertahankan daya tahan tubuh.”

Kalangan naturopati memperkenalkan konsep vegetarian, yakni pengidap kanker tidak boleh memakan daging apa pun (kecuali ikan, bila dirasa perlu), termasuk telur dan susu. Alasannya, produk-produk hewani membuat pH tubuh menjadi asam –suatu kondisi yang sangat disukai kanker untuk tumbuh subur. Konsep ini pun sudah cukup luas diterima para pejuang kanker, khususnya yang menempuh pengobatan secara nonmedis, umumnya dikombinasikan dengan diet a la medis.

Beberapa pengobat kanker juga memberikan daftar dietnya masing-masing, yang umumnya tetap berpedoman pada prinsip empat sehat lima sempurna dengan variasi di sana-sini, yang garis besarnya telah terangkum dalam artikel Diet Bagi Pejuang Kanker (1).

Dr. Peter D'AdamoTetapi Dr. Peter D’Adamo melalui bukunya Diet Sehat Golongan Darah Untuk Mencegah dan Mengobati Kanker memberikan teori yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Ahli naturopati dari AS ini mengingatkan, tiap orang memiliki golongan darah yang berbeda karena darahnya mengandung antigen yang berbeda juga. Seseorang yang memiliki golongan darah A misalnya, jika ditransfusi dengan darah bergolongan B, maka tubuhnya akan menolak dengan mengeluarkan antibodi untuk melawan darah baru tersebut. Demikian juga seseorang yang hendak menjalani transplantasi organ tubuh, perlu diteliti segala sesuatunya untuk memastikan organ yang akan dicangkokkan benar-benar cocok dengan kondisi si penerima, sehingga tidak menimbulkan reaksi penolakan yang dapat berakibat fatal.

Teori itu diterapkan oleh Dr. Peter D’Adamo pada makanan. Ia menyatakan bahwa tiap jenis makanan juga mengandung antigen-antigen tertentu (disebut lektin) yang cocok bagi golongan darah tertentu, tetapi belum tentu cocok bagi golongan darah lain. Dengan dasar pemikiran ini, menjadi tidak masuk akal baginya kalau setiap orang di seluruh dunia harus menjalani diet yang sama mengikuti prinsip empat sehat lima sempurna.

Dr. Peter D’Adamo kemudian menyusun suatu daftar makanan yang boleh atau tidak boleh dikonsumsi oleh seseorang bergolongan darah A, B, AB, maupun O. Dari daftar ini, ia kemudian membuat daftar yang lebih spesifik lagi, yaitu daftar makanan yang boleh atau tidak boleh dikonsumsi oleh penderita penyakit tertentu berdasarkan golongan darahnya. Salah satunya ya buku Diet Sehat Golongan Darah Untuk Mencegah dan Mengobati Kanker ini.

buku Diet Sehat Golongan Darah untuk KankerDalam buku tersebut, makanan yang boleh dikonsumsi oleh masing-masing golongan darah masih dibedakan lagi menjadi makanan Super Bermanfaat, yaitu makanan yang mempunyai khasiat kuat dan spesifik untuk melawan kanker, kemudian makanan Bermanfaat, yaitu makanan yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh, kesehatan metabolik, maupun kesehatan struktural; makanan Netral yang boleh sering dikonsumsi untuk pemenuhan zat gizi, dan makanan Netral yang hanya boleh dikonsumsi sesekali saja. Selebihnya adalah makanan yang harus dihindari.

Bukan hanya makanan pokok yang ada daftarnya dalam buku ini, tetapi juga berbagai sayur-mayur, buah-buahan, biji-bijian, kacang-kacangan, bumbu-bumbu, minyak, bahkan juga minuman, dan vitamin/suplemen yang boleh atau tidak boleh dikonsumsi. Sangat menarik dan mencerahkan membaca mengenai teori baru yang masuk akal dengan daftar yang begitu lengkap.

Walaupun dinyatakan buku-buku Dr. Peter D’Adamo telah diterjemahkan ke dalam 50 bahasa, kita tetap harus waspada. Karena teori baru tentang makanan yang dikembangkannya mulai tahun 1990-an ini belum didukung publikasi mengenai riset-riset yang telah dilakukan. Dr. Peter D’Adamo belum pernah mempublikasikan riset mengenai zat-zat yang terkandung dalam bahan makanan tertentu, maupun riset dan uji klinis mengenai kecocokan suatu bahan makanan terhadap suatu golongan darah. Benarkah riset dan uji klinis itu ada? Kapan dilakukan, di mana, oleh siapa, berapa dan siapa pesertanya, serta bagaimana hasilnya?

Apalagi kalau menilik sebagian dari diet yang dianjurkan justru merupakan kebalikan dari diet konvensional yang telah lama dikenal. Contohnya untuk golongan darah O, Dr. Peter justru menganjurkan daging merah sebagai makanan super bermanfaat, sebaliknya menganjurkan menghindari sumber-sumber karbohidrat. Menyikapi hal seperti ini kita harus berhati-hati, memantau perkembangan secara cermat, karena kalau ada kesalahan kesehatan kita yang menjadi taruhannya.

Sayangnya, daftar makanan yang ada di buku ini mengacu pada daftar makanan yang ada di Amerika. Banyak di antara bahan-bahan yang disebutkan yang tidak dikenal di Indonesia, sebaliknya sangat banyak makanan sehari-hari di Indonesia yang tidak disebutkan di sana. Mari kita tunggu ahli naturopati Indonesia yang ikut menerapkan dan mempromosikan buku ini menambahkan daftar makanan asli Indonesia ke dalamnya. (Titah Rahayu/rumahkanker.com)
 
Tahap-tahap Penanganan Kanker Bookmark and Share

Tidak gampang dokter bedah menyatakan seorang pasien menderita kanker. Dan tidak mudah juga prosedur yang harus dilewati sebelum kesimpulan ini berani diungkapkan. Jangan ditanya bagaimana berat pukulan yang diderita seseorang dengan menyandang predikat ‘penderita kanker’. Akan dapat membuat terkuras deras kekuatan fisik, mental, kehidupan sosial, dan kondisi finansialnya. Hal inilah yang sering menghantui para remaja putri, ibu muda, atau siapa saja yang merasa di tubuhnya timbul benjolan yang tidak wajar. Sekalipun sekilas terkesan over suspected, mereka yang mempunyai  pengetahuan dan rasa ingin tahu yang lebih ini setidaknya lebih baik dibandingkan sekelompok mereka yang acuh terhadap kejadian itu hingga telah terlambat baru menyadarinya. Dampaknya bisa kita lihat sekarang ini begitu banyak muncul kelompok diskusi, promosi, penyedia informasi, media berbagi yang pada intinya menyerukan upaya preventif sebagai antisipasi dan peningkatan survival atau setidaknya  quality of life bagi saudara-saudara kita yang terkena kanker. Di sisi lain, mungkin dirasakan masih minim media yang memfasilitasi penyampaian informasi dari dokter yang dalam hal ini sebagai judge of treatment dan decision maker tahap penanganan kanker itu selanjutnya.

Tidak lagi mengulas apa itu kanker, dan atas masukan beberapa teman, tulisan ini mencoba memberikan informasi bagaimana seharusnya seorang dokter menggiring pasiennya untuk melewati langkah demi langkah menuju diagnostik dan therapy yang benar. Sehingga si pasien tidak sampai salah jalan, tidak lagi merasa bosan, dan tidak mengambil atau mau diajak ikut jalan pintas oleh dokternya. Ini semua demi mencapai hasil pengobatan yang optimal.

Pencatatan Dan Pemeriksaan Fisik Yang Cermat

tahap-tahap_kankerSeringnya awal itu menjadi penentu. Pengumpulan data yang kelihatannya sepele ini menjadi penting maknanya tatkala di kemudian waktu informasi ini dibutuhkan. Data itu menyangkut umur, jenis kelamin, tempat tinggal, pekerjaan, status perkawinan, riwayat keluarga, dan lain-lain. Hal ini akan berkaitan dengan faktor resiko seseorang terkena kanker. Dari penampakan dan pemeriksanan fisik saja seorang dokter bedah berpengalaman sudah bisa curiga tumor atau kelainan yang diderita pasiennya termasuk ganas atau tidak. Benjolan yang membesar agresif, tumbuh dalam waktu singkat, batas tidak tegas, terfiksir di bagian lain di sekitarnya, apalagi nampak adanya luka borok, dapat dicurigai suatu tumor itu ganas. Kecurigaan bertambah jika penderita tersebut mengalami penurunan kondisi secara drastis. Dari pemeriksaan fisik juga diharapkan pemeriksa dapat menentukan tumor primer yang jelas, adanya pembesaran kelenjar limfe, memperkirakan tumor tersebut bisa dioperasi bersih (operable) atau tidak, dan mencari apakah ada kelainan/penyakit lain yang diderita selain tumornya. Jika keadaan-keadaan ini luput dari perhatian dan dengan under estimate seorang dokter bedah gegabah melakukan tindakan operasi untuk mengangkat tumor secara langsung, bisa jadi tindakannya malah membangunkan macan tidur karena tidak menjalankan prinsip-prinsip onkologi secara benar. Atau lebih sering terjadi apa yang disebut hoopla surgery yaitu bedah dengan perasaan kaget melihat kenyataan jaringan tumor yang akan dioperasi tidak sesuai dengan perkiraan sebelumnya…

Penentuan Stadium Tumor

Berdasarkan pertemuan pakar onkogi sedunia telah disepakati bahwa patokan untuk menntukan stadium tumor ganas dinilai dari 3 hal yaitu TNM (tumor, node, metastase): besarnya tumor itu sendiri, node atau kelenjar limfe yang terkena di sekitarnya, dan ada tidaknya metastase. Pada tahap inilah selain pemeriksaan fisik yang cermat, dibutuhkan juga pemeriksaan penunjang lainnya, seperti foto x-ray dada, USG, bone scanning, CT scan, ataupun petanda tumor. Yang dicari adalah kemungkinan adanya penyebaran tumor di bagian organ yang dideteksi. Dari data ini kemudian ditentukan T-nya berapa, N-nya berapa, dan M-nya ada atau tidak. Perhitungan besarnya T dan jauhnya N dari tumor primer masing-masing kanker di lokasi tertentu di tubuh kita mempunyai topografi atau batas-batas tersendiri. Kemudian dari sini ditentukan stadiumnya. Stadium I, IIA, IIB, dan seterusnya. Misalnya tumor ganas paru berdiameter 4 cm, didapatkan pembesaran kelenjar di areal dekat saluran nafas pada sisi yang sama, tanpa ada penyebaran, maka termasuk T2N1M0 atau stadium II.

Pemeriksaan Biopsi

Pemeriksaan mikroskopik terhadap sample tumor yang bisa menggambarkan histopatologis –struktur dan kateristik sel- dari jaringan yang dicurigai kanker tersebut. Ini menjadi penentu seseorang dapat divonis terkena kanker atau tidak. Memang sangat dipengaruhi sekali pada saat pengambilan bahan biopsi, sudah dapat mewakili seluruh kondisi tumor atau belum. Ada beberapa cara pengambilan biopsi. Hal ini bisa dipilih dengan pertimbangan letak tumor, efektivitas pengambilan, fasilitas yang tersedia dan kemungkinan radikalitas tumor itu sendiri. Dikenal ada: open biopsy (eksisi dan insisional biopsy), biopsy jarum, trucut biopsy, punch biopsy, dan curettage biopsy (biopsi kerokan). Dari pemeriksaan ini dapat ditentukan jenis, sifat sel tumor, dan tingkat diferensiasi (perubahan) sel dari struktur normal sehingga bisa diketahui seberapa ganasnya sel-sel tumor itu. Dari informasi ini kemudian dokter bisa memprediksi hasil therapy yang nantinya akan diberikan. Pengerjaan untuk melakukan biopsy dapat dilakukan sebelum pembedahan utamanya dikerjakan (yang ini lebih dianjurkan), atau bisa juga pada saat pembedahan sebagai upaya therapeutic. Yang paling penting diketahui bahwa apapun hasilnya, si pasien mempunyai hak untuk mengetahui dan mendapatkan hasil pemeriksaan patologi tersebut. Dan dokter dengan caranya tersendiri wajib menginformasikan hal itu secara langsung kepada si pasien.

Menentukan Keadaan Umum (Status Performance) Penderita

Setelah semua tahap di atas dijalani sampai mendapatkan kesimpulan jenis kanker apa dan seberapa parahnya, maka sebelum menentukan therapy yang akan diberikan, seorang dokter harus menilai dulu keadaan umum atau kondisi penderita. Mungkin saja tingkat keganasan tumornya masih rendah tapi kondisi tubuh yang lain dalam keadaan payah, tentu mempengaruhi pilihan therapy dan dosis yang diberikan karena therapy kanker itu sendiri, khususnya kemoterapi, membawa efek samping yang luar biasa. Sehubungan dengan ini, disamping cara pengukuran lain, dikenal lebih umum penggunaan score dari Karnovski yang berskala dari 0 – 100. Makin baik kondisi penderita, ia akan memiliki score mendekati 100. Dikatakan therapy untuk kanker akan beresiko pada penderita dengan score di bawah 30, dimana seorang penderita sudah tidak mampu lagi menjalankan aktifitas kesehariannya tanpa dibantu orang lain. Dari sini juga akan dinilai penyakit atau gangguan apa saja yang menyertai penderita kanker. Bisa itu implikasi dari keganasannya atau mungkin penyakit yang berdiri sendiri, seperti; kelainan jantung, diabetes, gagal ginjal, liver, dan lain-lain.

Menentukan Pilihan Jenis Therapy

Ada beberapa bentuk therapy untuk keganasan yang memiliki respon berbeda antar satu jenis kanker dengan jenis kanker yang lain. Jenis therapy itu meliputi; pembedahan, khemotherapy, radiotherapy atau therapy penyinaran, therapy hormonal, dan biotherapy. Dari data dan penelitian yang telah dipelajari, sudah dapat dipastikan satu keganasan lebih sensitif terhadap therapy A dibandingkan dengan therapy B. Namun dalam penerapannya akan memberi hasil lebih optimal kalau dikombinasi antar jenis therapy itu. Sehingga di bidang onkologi, therapy ini dapat digolongkan menjadi: therapy utama, therapy tambahan, therapy komplikasi, dan therapy suportif / bantuan. Misalnya, tumor ganas payudara atau carcinoma mammae, pembedahan merupakan therapy utamanya, sedangkan khemotherapy dan atau radiotherapy menjadi therapy  tambahan. Jika dilakukan pembedahan, ada dua tujuan utamanya, kalau bukan untuk kuratif (mengambil bersih tumornya), pembedahan bisa bertujuan hanya sebagai therapy paliatif, dengan maksud meringankan atau memperbaiki kondisi penderita tanpa memandang pengangkatan tumor itu tuntas atau tidak.

Implementasi Therapy

Dari sini ditentukan jenis pembedahan apa yang akan diambil, kalau itu memerlukan pembedahan. Kalau dibutuhkan kemotherapy, seberapa lama dan berapa seri akan diberikan, kombinasi dari obat kemotherapy apa saja dan seberapa banyak dosisnya. Begitu juga untuk radiotherapy dan hormonal therapy, dengan telah melewati tahap-tahap sebelumnya, semestinya sudah dapat ditentukan berapa banyak dosisnya, lama dan rentang waktu pemberiannya. Ini merupakan tahap akhir penanganan kanker yang justru sangat melelahkan dan menyakitkan bagi penderita. Di samping waktu pelaksanaannya lama, juga mengingat efek samping yang ditimbulkan obat-obat khemotherapy ini amat sangat tidak mengenakkan. Tidak jarang banyak penderita yang kelahan, bosan, putus asa dan tersiksa menjalaninya sehingga terpaksa harus menyerah di tengah jalan, terutama bagi mereka yang terkena kanker bermetastase (menyebar) yang tidak bisa lepas menjalani therapy ini seumur hidupnya.

Evaluasi Dan Monitoring

Untuk mengetahui hasil therapy yang telah diberikan, perlu diadakan evaluasi secara berkala. Bisa setiap 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun bahkan sampai 5 tahun sekali secara periodik. Evaluasinya oleh dokter melalui pemeriksaan fisik yang dilakukan dan atau ditambah pemeriksaan penunjang seperti yang sebelumnya dikerjakan, terutama untuk mendeteksi ada tidaknya sisa atau pertumbuhan penyebaran tumor itu lebih lanjut. Dari monitoring ini dapat saja seorang onkolog menurunkan dosis dan memperpanjang waktu serial therapy yang akan diberikan. Di sini dibutuhkan lagi disiplin serta semangat tinggi para penderita.

Bagi anda yang sedang berjuang melawan kanker, jangan putuskan asa anda, jangan patahkan semangat anda. Kuatlah berjuang. Isi waktu anda dengan aktivitas keseharian seperti biasa, jangan terlalu terlarut dengan kesedihan dan penyesalan diri. Studi membuktikan, bagi mereka yang bisa berpikir posistif apalagi mempunyai tipe kepribadian yang ekstrovert akan dapat meningkatkan 5 year survival rate-nya. Bisa menjalani hidup lebih lama dari prediksi yang diperkirakan sebelumnya…..

dr. Eka Kusmawan, SpB
Kepala Instalasi Kamar Operasi dan Ketua SMF Bedah Surya Husadha Hospital, Bali
Instruktur Nasional ATLS

Keterangan gambar baca di sini.

 
Cintaku Pada Rokok Berbuah Kanker Paru dan Kanker Usus Bookmark and Share

Bulan November 2005 adalah bulan kelabu dimana aku divonis dokter terkena kanker paru-paru dan harus dilakukan pengangkatan sebagian paru kanan atasku yang ada kankernya. Kejadiannya setelah Hari Raya Idul Fitri 2005 aku merasakan badanku yang kurang sehat dan cenderung setiap hari berat badanku turun 1/4 kg sementara aku makan seperti biasa.

Dari situlah aku memeriksakan diri ke laboratorium untuk melakukan general cek up, karena sejak berhenti sebagai atlit nasional, aku belum pernah cek up lagi. Dan hasil dari cek up itulah ketahuan kalau di paru sebelah kanan atasku ada tumor sebesar 6 (enam) sentimeter. Sebelumnya aku sudah ada perasaan kalau terkena kanker paru karena aku adalah perokok berat (satu hari rata-rata bisa sampai 60 batang rokok). Saat itu aku menerima dengan tegar karena aku merasa penyakit tersebut akibat dari kebiasaanku merokok sejak remaja.

Ironis memang, sementara aku adalah seorang mantan pemain bahkan kapten tim nasional di cabang softball era tahun 1980-1990, yang seharusnya hidup tanpa tembakau/rokok. Padahal sudah gak bosan-bosannya lingkungan di sekitarku menganjurkan aku untuk berhenti merokok tetapi aku menjawab dengan sombong bahwa aku kan atlit, jadi ada alasan untuk merokok tapi sehat. Memang saat itu tidak terlihat akibat dari rokok yang katanya bila seseorang itu merokok maka dia tidak akan kuat untuk berlari jauh, atau dengan kata lain perokok napasnya jadi pendek. Itu tidak terjadi pada diriku. Dan memang aku buktikan di setiap latihan atau dalam pelatnas (pemusatan latihan nasional) kondisi badanku oke-oke aja, jadi buat aku merokok tidak ada pengaruhnya sama sekali.

Keluarga Berthie Sompie
Anakku Albert Alvin Sompie, aku (Berthie Sompie), istriku Yayuk, dan anakku Talita Tamara Sompie.

Kebetulan dokter yang memeriksaku setelah ada hasil dari foto rontgen adalah kakakku sendiri yang dokter spesialis paru (Dr. Menaldy Rasmin SpP(K) ). Setelah melalui pemeriksaan yang lebih mendetail yaitu dilakukan broncoscopy dan biopsy, tidak ada jalan lain kecuali dilakukan operasi pengangkatan paru kanan bagian atas yang telah terkena kanker.

Saat itulah aku mulai takut karena terus terang selama hidup aku belum pernah yang namanya sakit berkepanjangan apalagi operasi dan harus diopname. Aku mulai menghindar setiap kali kakakku menanyakan kapan siap dioperasi. Aku hanya menjawab besok, besok, dan besok, yang sebenarnya sih aku amat sangat ketakutan untuk operasi. Malahan aku sempat lari ke pengobatan alternatif. Ternyata tidak membuahkan hasil yang aku harapkan.

Aku lalu datang ke tempat praktek kakakku dan menanyakan akibatnya bila aku gak mau operasi (sewaktu aku ke pengobatan alternatif kakakku gak tau). Kakakku bilang kalau aku gak dioperasi akan terjadi pembengkakan di tubuh bagian kanan, mulai dari tangan kanan terus ke dada kanan. Nah kalau sudah terjadi pembengkakan maka tidak bisa dilakukan operasi, yang ada hanya bila sakit akan diberi obat anti sakit, bila sesak napas akan diberi obat sesak napas, dengan kata lain aku tinggal menghitung hari untuk mati. Di situlah aku makin ketakutan, menyerah serta pasrah untuk dioperasi.

PARU-PARUKU DIPOTONG

Operasi mulai disiapkan dan dijadwalkan karena operasi paru adalah operasi besar yang perlu persiapan yang mendetail, mulai dari periksa jantung, paru, gigi, tekanan darah, dan lain-lain yang memerlukan waktu beberapa hari. Di sini aku masih menawar pada kakakku, bahwa aku mau dioperasi tapi pemeriksaan persiapan operasi aku lakukan sambil jalan, jadi aku gak mau opname sejak pemeriksaan persiapan operasi dilakukan. Sebenarnya begini ini gak boleh, tapi karena fasilitas dari kakakku aku diijinkan melakukan pemeriksaan pra operasi tidak dengan nginap di rumah sakit.

Aku dijadwalkan dioperasi di RS Persahabatan, Rawamangun, Jakarta. Kebetulan lagi istriku kerja di RS Persahabatan sebagai dokter, dan memang RS Persahabatan adalah rumah sakit untuk paru-paru. Hampir semua pakar paru-paru ada di RS Persahabatan.

Aku baru masuk rumah sakit dua hari menjelang operasi yaitu tanggal 24 Desember 2005, dan operasi dilakukan tanggal 27 Desember 2005 jam 08.00 pagi. Operasi diperkirakan memakan waktu sekitar 5 (lima) jam. Saat itu aku merasakan takut yang amat sangat sehingga istriku diijinkan ikut masuk didalam kamar operasi untuk memberi semangat.

Aku baru sadar setelah operasi kira-kira jam 07.00 malam. Yang pertama aku lihat adalah istriku, anak-anakku, saudara-saudaraku, juga kakakku yang termasuk dalam tim dokter biarpun dia gak ikut menangani langsung. Kenapa semua orang-orang terdekatku bisa masuk kedalam ICU, karena dapat fasilitas dari direktur RS Persahabatan, sebab kakak dan istriku adalah dokter di RS tersebut.

Begitu sadar yang pertama kali aku tanya pada kakakku yaitu apakah penyakitku sudah hilang, yang dijawab dengan anggukan oleh kakakku. Aku sangat gembira mendengar bahwa aku sudah terbebas dari penyakit kanker paru yang telah mencapai stadium 3B (setelah potongan paru diperiksa di laboratorium).

Ternyata untuk pemulihan kondisiku yang diperkirakan sekitar lima hari di dalam ICU (intensive care unit) cukup aku jalani dua hari saja. Kondisi ini sangat menggembirakan baik untuk aku sendiri maupun keluarga dan tim dokter. Ini disebabkan masa laluku yang mantan seorang atlit nasional, jadi secara umum kondisi badanku bagus dan cepat melakukan pemulihan, di samping semangatku untuk sembuh sangat besar sekali.

Jadi aku dirawat di rumah sakit sejak masuk, operasi, dan pemulihan total selama 10 hari, padahal sebenarnya aku sudah siap mental untuk 20 hari.Bisanya pulang lebih awal mungkin karena kondisi fisikku saat dioperasi sangat baik sehingga pemulihannya lebih cepat dari yang diduga.

Di rumah aku mulai menyesuaikan dengan keadaanku yang baru yaitu harus melakukan fisioterapi atau rehab medik untuk memulihkan kondisiku dan juga menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk stadium penyakit kanker paruku. (Berthie Sompie/rumahkanker.com)

KANKER LAIN DI USUS BESARKU

Dalam penantian yang lumayan lama aku mulai dijalari rasa takut akan hasil dari laboratorium tentang sudah stadium berapa kankerku ini. Selama penantian aku diharuskan berolahraga ringan, salah satunya berenang, dan itu aku lakukan. Saat mulai agak enakan kondisi badanku, aku merasakan sakit perut yang sangat hebat yang datangnya sesekali dan itu tidak aku hiraukan.

Semua keluargaku mengira sakit perutku akibat dari bertahun-tahun aku adalah pemakan cabai berat, yang apabila membuat sambal cabenya bisa mencapai 20 biji. Aku juga punya pikiran sama karena sakitnya hanya datang sesekali saja biarpun saat sakitnya datang aku merasakan sakit yang amat sangat. Hingga pada awal bulan kedua sejak aku dioperasi paru sakit perutku makin menjadi-jadi dan datang lebih sering sehingga aku sudah gak kuat menahannya dan aku minta diantar oleh istriku untuk ke dokter internis yang sudah pernah menangani aku.

Oleh dokter aku langsung diperiksa dengan USG dan dokter menaruh curiga didalam usus besarku ada sesuatu. Besoknya dilanjutkan dengan pemeriksaan colonoscopy (foto usus yang dilakukan lewat anus) dan ternyata benar dugaan dokter bahwa didalam usus besarku ada lagi tumor yang besarnya hampir menyumbat jalannya makanan di usus.

Sehari setelah aku di colonoscopy aku membawa hasilnya ke dokter internis dan saat itu juga dokter mengatakan kalau aku harus menjalani operasi besar lagi yaitu pemotongan dua pertiga dari usus besarku, sementara hari itu adalah baru genap dua bulan pasca operasi paru-paruku.

Saat berada di ruang dokter aku tegar dan mengiyakan semua anjuran dokter, tapi setelah pulang aku shock yang amat sangat karena mengira sudah terbebas dari penyakit kanker paru eeee... ternyata aku masih harus berjuang untuk menghadapi operasi lagi yang kurang lebih akan memakan waktu 4-5 jam.

Aku sempat menolak untuk dioperasi karena terus terang aku sangat takut, tetapi sakit perut yang aku rasakan mengalahkan rasa takutku sehingga aku pasrah. Apalagi menurut hasil CT Scan kanker ususku sudah menyebar ke ginjal dan otot tulang belakang. Yang dikuatirkan oleh tim dokter adalah jika ginjalku juga harus dibuang satu apabila kankernya telah berakar di dalam ginjalku. Bersyukur sekali ternyata kanker yang ada di ginjalku hanya menempel, dan bisa dibuang tanpa memotong satu ginjalku.

Soal penyebaran kanker ususku dokter tidak memberitahuku, hanya istri dan beberapa keluargaku yang diajak rapat untuk menentukan langkah-langkah apa aja yang akan dilakukan oleh tim dokter yang mengoperasiku. Situasi dan kondisi penyebaran kanker ususku memberikan empat kemungkinan operasi. Yang pertama dilakukan pemotongan usus besar sepanjang duapertiga panjang usus terus disambung, dan yang menempel di ginjal serta otot belakang dibuang dengan cara dilepaskan begitu saja. Yang kedua sama dengan yang pertama tapi usus tidak bisa disambung sehingga aku harus memakai kantong yang ditempelkan di perut untuk buang air kecil maupan besar. Yang ketiga sama dengan yang pertama cuma ginjalku dipotong/dibuang satu karena kankernya sudah mengakar dalam. Dan yang keempat dilakukan operasi atau dibuka perutku tetapi karena sudah menyebar kemana-mana maka tidak bisa diadakan tindakan sehingga ditutup kembali dan hanya diobati dengan jalan dikemoterapi saja.

Sekali lagi aku bersyukur bahwa aku dioperasi potong usus besar dan bisa disambung kembali tanpa memakai kantong. Lamanya aku dioperasi usus sama dengan saat operasi paru yaitu sepuluh hari aku berada di rumah sakit Mitra Internasional Jatinegara.

Pasca operasi usus baru aku merasakan sakit yang luar biasa karena bekas operasi paru yang belum sembuh ditambah dengan luka baru akibat operasi usus. Sampai-sampai aku gak kuat menahan rasa sakit itu yang datang hampir tiap malam menjelang tidur, dan tiap mau tidur malam aku berdoa (karena gak kuat menahan sakit) untuk diambil saja nyawaku, aku sudah pasrah dan siap. Tapi istriku memberi aku keyakinan untuk bangkit dan melawan rasa sakit itu mengingat aku masih punya anak dua yang belum mentas/mandiri (masih butuh bimbingan).

Kemudian aku mengajukan permohonan kepada Allah untuk diijinkan menjaga dan mendidik anakku sampai dewasa, dan ternyata aku masih diberi kesempatan kedua oleh Allah SWT untuk hidup. Aku bersyukur mempunyai istri dan anak-anak serta keluarga yang memberi dukungan yang sangat besar kepadaku untuk bangkit dan semangat dalam melawan penyakit kanker. (Berthie Sompie/rumahkanker.com)

KEMOTERAPI 58 JAM

Satu bulan pasca operasi usus aku mulai dijadwalkan untuk menjalani pengobatan dengan cara kemoterapi yang merupakan momok bagiku, karena selama ini aku sering mendengar tentang efek samping kemoterapi, tetapi aku gak bisa menolak karena penyakit kankerku obatnya hanya dengan dikemoterapi dan radiasi.

Bulan April mulailah aku menjalani kemoterapi yang pertama dilakukan di rumah sakit Mitra Internasional Jatinegara. Pengobatan kemoterapi ternyata sama saja dengan obat-obat lainnya yang dimasukkan lewat infus, cuma campuran obat kemoterapi sangat keras sehingga saat mencampur obat harus di ruangan khusus dan susternya memakai baju khusus juga seperti layaknya pakaian seorang astronot. Karena di badanku ada dua macam kanker yaitu kanker paru dan kanker usus besar maka obat kemoterapi yang dimasukkan ke dalam badanku lewat infus selama 58 (lima puluh delapan) jam. Saat dikemoterapi aku selalu masuk RS Mitra International Jatinegara hari Jumat pagi dan baru pulang ke rumah hari Minggu malam. Aku dijadwalkan kemoterapi selama 6 (enam) kali per dua minggu sekali.

Berat badanku saat mulai sakit sampai dioperasi hilang 20 kg, yang tadinya 70 kg menjadi 50 kg, sampai-sampai aku gak mau ngaca karena kalau ngaca aku makin stress melihat badanku yang sangat kurus.

 

Berthie Sompie
Sekarang aku rajin kampanye antirokok. (Foto: Siti Aniroh)
Sepulang dari pengobatan perdana kemoterapi aku tidak merasakan efek samping, tapi dua hari setelah di rumah baru merasakan efek dari obat kemoterapi di mana badanku tiba-tiba lemas dan gak bisa ngapa-ngapain, dan ini datang secara tiba-tiba setelah aku makan pagi.Aku jadi bingung gak tau harus gimana sampai-sampai istriku pulang lebih cepat dari kantornya karena takut juga.

Disini aku mau cerita sedikit tentang pengobatan untuk penyakit kanker yang dinamakan kemoterapi, di mana obat yang dicampurkan itu sangat mahal dan mempunyai efek samping yang sangat ganas, karena semua obat yang dicampurkan itu adalah obat keras. Saat pertama aku dan istriku berbicara dengan dokter tentang program kemoterapi yang harus aku jalani, dokter tersebut menanyakan padaku apa aku siap dengan dananya karena akan sangat besar sekali dana yang dibutuhkan untuk kemoterapi. Aku hanya bilang saya sudah siap moril maupun materiil.

Ternyata di tengah jalan aku gak siap secara moril karena efek samping dari kemoterapi amat sangat tidak enak, macam-macam yang aku rasakan mulai dari mual yang hebat dan diare yang sehari bisa sampai 3-4 kali serta kepala yang amat sangat sakit yang rasa-rasanya mau pecah sampai kepalaku aku ikat dengan kain. Apalagi setelah selesai kemoterapi yang pertama kira-kira satu minggu kemudian aku terserang demam berdarah yang membuatku shock, karena itu akan membuat jadwal kemoterapiku jadi tertunda, karena setiap kali kita akan dikemoterapi kondisi badan harus fit benar. Jadi aku harus menunggu sembuh dulu dari demam berdarah baru bisa dikemoterapi.

Di sinilah ujian mental untuk pasien kanker dengan pengobatan kemoterapi karena efek samping dari obat kemoterapi selalu berubah-ubah sehingga fisik dan mental harus kuat saat menjalani pengobatan kemoterapi.

Banyak penderita kanker yang menjalani kemoterapi berhenti di tengah jalan karena tidak kuat fisik dan juga mental. Di sini dibutuhkan dorongan atau support dari keluarga dan orang-orang terdekat untuk memberi semangat hidup untuk melawan sakit akibat kemoterapi.

Banyak hal yang aku alami saat menjalani proses enam kali pengobatan kemoterapi yaitu perasaan dan kondisi badan yang tidak menentu yang membuat kita menjadi depresi mental dan aku juga sudah mengalami jatuh mental yang sangat dalam sampai-sampai aku sudah mohon untuk berhenti untuk dikemoterapi, tetapi istri dan keluarga besarku memberi semangat untuk melawan dan tetap semangat yang akhirnya aku dapat melalui tahap yang sangat krusial tersebut.

Aku selesai menjalani pengobatan kemoterapi pada bulan Desember 2006 dan sampai sekarang aku tetap melakukan cek up setiap tiga bulan sekali. Alhamdullilah berat badanku sudah kembali seperti semula bahkan sekarang lebih gemuk. Untuk menjaga kondisi aku menghindari daging merah dan hampir tiap hari minum jus buah, buah apa saja, kadang-kadang jus sayuran. Selain itu aku kembali bermain softball karena vitamin paling mujarab buat aku ya lapangan softball, tapi mainnya bersama para pensiunan, yang penting kan olahraga....

Untuk masalah pembiayaan selama sakit antara dioperasi dua kali sampai pengobatan kemoterapi sebanyak enam kali aku kira-kira menghabiskan dana sekitar Rp 400 jutaan.

Dari pengalamanku selama sakit baru aku merasakan kalau SEHAT ITU MAHAL dan semua penderitaan ini akibat dari rokok/nikotin. Jadi kesimpulannya ROKOK ITU TERNYATA GAK ADA BAGUS-BAGUSNYA selain membuat si perokok menjadi sakit yang ujungnya mengakibatkan penyakit nomer dua yang mematikan setelah penyakit jantung, yaitu penyakit kanker paru.

Jadi dengan tulisan ini aku menghimbau pada semua yang kebetulan membaca untuk berhenti merokok karena akibat dari merokok sudah jelas. Dan untuk para penderita kanker (apa aja) yg penting harus semangat dan punya kemauan hidup besar, jangan menyerah n putus asa, juga jangan lupa berdoa karena Tuhan tidak akan memberikan cobaan pada umat-Nya di luar kemampuan kita. (Berthie Sompie/rumahkanker.com)


Albert Charles Sompie (Berthie Sompie)
Survivor kanker paru dan kanker usus besar
Telp. Rumah: (021) 424 7010 - 425 7052
HP: 0812 826 0749

Anda juga mempunyai pengalaman menarik dalam melawan kanker?

Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot. Silakan aktifkan Javascript untuk melihatnya.


 
Memberi Tahu Anak-anak Bookmark and Share
Mengatakan bahwa Anda menderita kanker kepada anak yang masih remaja atau bahkan kanak-kanak adalah tantangan tersendiri. Banyak orang lebih suka merahasiakan keadaannya pada anak-anaknya. Ada semacam perasaan “tidak tega” atau “kasihan”, atau mungkin justru tidak siap menghadapi reaksi mereka.

Tetapi kanker bukanlah sesuatu yang mudah dirahasiakan, karena akan banyak perubahan yang terjadi dalam keluarga Anda selama proses pengobatan. Misalnya, Anda akan sering meninggalkan mereka untuk menjalani pemeriksaan laboratorium, pengobatan di rumah sakit; atau sebaliknya mereka akan melihat Anda di rumah meminum obat dalam jangka waktu lama, dan banyak sanak-saudara maupun tamu lain yang berkunjung menengok Anda.

Jika anak-anak mengetahui kondisi Anda dari orang lain, atau secara tidak sengaja mendengar pembicaraan Anda, mereka akan menebak-nebak mengapa tidak diberi tahu. Mereka menangkap adanya situasi yang mengkhawatirkan, dan akan menjadi sangat khawatir atau takut karenanya. Bisa jadi hal ini malah akan membuat mereka kehilangan kepercayaan kepada Anda!

bicara pada anak
Bicara pada anak
Jadi sebaiknya mereka diberitahu secara langsung. Reaksi mereka akan tergantung pada bagaimana sikap Anda. Kalau mereka melihat orang tuanya tenang, mereka pun beranggapan situasinya terkendali dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
  1. Ajaklah seseorang menemani ketika Anda berbicara kepada anak-anak. Bisa pasangan Anda, orangtua, kerabat, atau sahabat keluarga yang bisa membantu Anda menjelaskan situasinya.
  2. Betapapun galau hati Anda, bersikaplah tenang dan terkendali. Syukur kalau Anda malah bisa sedikit bercanda.
  3. Bicaralah jujur dengan bahasa yang mereka mengerti. Yang perlu mereka ketahui adalah apa nama penyakit Anda, bagian mana tubuh Anda yang terserang, bagaimana cara pengobatannya, dan apakah pengaruhnya kepada kehidupan keseharian anak-anak. Yakinkan bahwa walaupun mungkin akan ada sedikit perubahan dalam rutinitas harian, mereka tetap diperhatikan, segala kebutuhan mereka tetap tercukupi (secara fisik maupun kejiwaan), dan Anda tetap menyayangi mereka.
  4. Untuk anak-anak di bawah umur 8 tahun, informasi di atas sudah cukup. Tetapi kadang diam-diam mereka bertanya-tanya dalam hati, apakah perbuatannya kemarin yang menyebabkan orang tuanya sakit kanker? Ataukah kenakalannya minggu lalu? Mereka merasa bersalah. Jadi walaupun mereka tidak menanyakannya, tegaskanlah bahwa keadaan ini bukan karena salah mereka.
    Kadang mereka juga khawatir kalau diri mereka atau anggota keluarga yang lain akan ketularan. Anda bisa menjelaskan bahwa kanker bukan penyakit menular.
  5. Anak-anak yang lebih besar mungkin akan bertanya lebih jauh. Jawablah pertanyaannya dengan jujur sebatas daya nalar dan emosional mereka. Kalau mereka bertanya tentang kematian, misalnya, Anda bisa menjawabnya, “Ada 100 lebih jenis kanker yang bisa menyerang manusia. Tidak semuanya menyebabkan kematian. Dokter bilang penyakit mama/papa bisa disembuhkan. Mama/papa mempercayainya, sebaiknya kalian juga, okay?”
Atau kalau keadaannya memang sudah terlalu parah, akan bijaksana kalau Anda menjawabnya begini, “Memang ada orang yang meninggal karena kanker, tetapi umur manusia adalah rahasia Tuhan. Yang pasti mama/papa akan berusaha maksimal untuk sembuh, dan dokter juga berjanji memberikan pengobatan yang terbaik.”

Seulas senyum dan belaian Anda akan sangat berarti untuk membuatnya lebih tenang.

Tiap anak akan memberikan reaksi yang berbeda atas informasi Anda, tergantung pembawaannya, kedekatan hatinya dengan Anda, dan kandungan informasi yang Anda berikan.
Kebanyakan anak tidak mampu mengatakan apa yang mereka rasakan. Tetapi Anda bisa mendeteksinya dari perilaku mereka. Kalau mereka tidak menunjukkan perubahan perilaku, berarti informasi Anda dapat mereka terima dengan baik tanpa pengaruh yang berarti pada kondisi psikis mereka.

Sedang kalau mereka menjadi lebih pendiam dari biasanya, atau sebaliknya lebih cerewet, lebih sering bertengkar dengan saudaranya, menunjukkan perubahan pola makan (lebih sering atau sebaliknya tidak mau makan), perubahan pola tidur, atau nilai ulangannya cenderung lebih jelek, berarti anak-anak Anda merasa tertekan.
Ajaklah mereka bicara untuk membantu mengekspresikan perasaan mereka, dengan begitu Anda pun bisa membantu memecahkan masalah mereka. Paling tidak buatlah mereka merasa lebih nyaman dengan sedikit perhatian lebih, menemani mereka menonton acara TV kesukaannya, menawarkan kebebasan memilih apa yang mereka sukai, misal menu makan siang, pakaian apa yang akan dikenakan, dan sebagainya.

Hal-hal kecil seperti ini bisa berarti sangat besar bagi mereka, dan bagi Anda juga tentunya.

Okay, salah satu masalah tersulit sudah terpecahkan. Sekarang Anda harus bersiap-siap untuk memulai pengobatan. (Titah Rahayu/rumahkanker.com)
 
Gejala-gejala Tumor/Kanker Otak Bookmark and Share

Otak adalah pusat kehidupan. Segala aktivitas kehidupan, hingga yang sekecil-kecilnya, hanya bisa terjadi melalui mekanisme yang diatur oleh otak. Dalam waktu yang bersamaan otak harus menjalankan beribu-ribu aktivitas sekaligus. Misalnya, saat kita berjalan di tepi jalan yang ramai, maka otak mengatur agar kaki melangkah, mengatur mata untuk melihat pemandangan dan situasi sekitar sekaligus menyimpannya dalam memori, menyuruh telinga menangkap berbagai suara yang masuk sekaligus menyimpan, menafsirkan, dan meresponsnya. Saat tiba-tiba mendengar suara klakson dari belakang maka secepat kilat otak menyuruh kaki meloncat ke tepi, menyuruh leher menoleh ke belakang, menyuruh mata membelalak, menyuruh otot-otot menegang untuk mengatasi situasi darurat, menyuruh jantung memompa darah lebih kencang, menyuruh hidung tetap bernafas, dan masih banyak lagi yang harus diaturnya, bahkan terkadang masih sempat-sempatnya menyuruh mulut memaki....

otak_manusiaSemua itu dapat dilaksanakan bersamaan karena diatur oleh bagian otak yang berbeda-beda. Ya, otak memiliki banyak bagian yang memiliki fungsi berbeda-beda. Secara garis besar otak terbagi atas tiga bagian, yaitu otak besar (cerebrum), otak kecil (cerebellum), dan batang otak (brain stem). Masing-masing bagian terbagi lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, lebih kecil lagi, dan lebih kecil lagi. Ruang antar bagian terisi oleh cairan otak (cerebrospinal fluid), sedang bagian luarnya terlindungi oleh tiga lapis selaput otak (meninges) plus tulang tengkorak.

Seperti bagian-bagian tubuh lain, otak bisa terkena tumor maupun kanker. Bedanya, jika pada bagian tubuh lain tumor jinak kadang tidak mengganggu dan tidak berbahaya, di otak tumor jinak pun bisa sangat mengganggu dan membahayakan nyawa.

Banyaknya bagian otak yang memiliki fungsi pengaturan tubuh yang berbeda-beda membuat tumor dan kanker otak memiliki gejala yang sangat variatif. Gejala yang muncul sangat tergantung di bagian otak mana tumor tersebut muncul.

Dr. Iskandar Japardi menjelaskan gejala umum tumor dan kanker otak adalah sebagai berikut:

Gejala Serebral Umum
Dapat berupa perubahan mental yang ringan (psikomotor asthenia), yang dapat dirasakan oleh keluarga dekat penderita berupa: mudah tersinggung, emosi, labil, pelupa, perlambatan aktivitas mental dan sosial, kehilangan inisiatif dan spontanitas, mungkin diketemukan ansietas dan depresi. Gejala ini berjalan progresif dan dapat dijumpai pada 2/3 kasus.

Nyeri Kepala
Diperkirakan 1% penyebab nyeri kepala adalah tumor otak dan 30% gejala awal tumor otak adalah nyeri kepala. Sedangkan gejala lanjut diketemukan 70% kasus. Sifat nyeri kepala bervariasi dari ringan dan episodik sampai berat dan berdenyut, umumnya bertambah berat pada malam hari dan pada saat bangun tidur pagi serta pada keadaan dimana terjadi peninggian tekanan tinggi intrakranial. Adanya nyeri kepala dengan psikomotor asthenia perlu dicurigai tumor otak.

Muntah
Terdapat pada 30% kasus dan umumnya meyertai nyeri kepala. Lebih sering dijumpai pada tumor di fossa posterior, umumnya muntah bersifat proyektil dan tak disertai dengan mual.

Kejang
Bangkitan kejang dapat merupakan gejala awal dari tumor otak pada 25% kasus, dan lebih dari 35% kasus pada stadium lanjut. Diperkirakan 2% penyebab bangkitan kejang adalah tumor otak.
Perlu dicurigai penyebab bangkitan kejang adalah tumor otak bila:
- Bangkitan kejang pertama kali pada usia lebih dari 25 tahun
- Mengalami post iktal paralisis
- Mengalami status epilepsi
- Resisten terhadap obat-obat epilepsi
- Bangkitan disertai dengan gejala tekanan tinggi intrakranial lain.
Bangkitan kejang ditemui pada 70% tumor otak di korteks, 50% pasien dengan astrositoma, 40% pada pasien meningioma, dan 25% pada glioblastoma.

Gejala Tekanan Tinggi Intrakranial (TTIK)
Berupa keluhan nyeri kepala di daerah frontal dan oksipital yang timbul pada pagi hari dan malam hari, muntah proyektil dan penurunan kesadaran. Pada pemeriksaan diketemukan papil udem. Keadaan ini perlu tindakan segera karena setiap saat dapat timbul ancaman herniasi. Selain itu dapat dijumpai parese N.VI akibat teregangnya N.VI oleh TTIK. Tumor-tumor yang sering memberikan gejala TTIK tanpa gejala-gejala fokal maupun lateralisasi adalah meduloblatoma, spendimoma dari ventrikel III, haemangioblastoma serebelum, dan craniopharingioma.

Selain gejala umum di atas ada gejala-gejala spesifik berdasarkan lokasi dan fungsi otak yang diserang. Antara lain:

Tumor pada Lobus Frontal:
- Perubahan perilaku dan kepribadian
- Penurunan kemampuan menilai sesuatu
- Penurunan daya penciuman
- Penurunan daya ingat
- Kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh
- Penurunan fungsi mental/kognitif
- Penurunan penglihatan dan radang syaraf mata

Tumor pada Lobus Parietal:
- Penurunan kemampuan bicara
- Tidak bisa menulis
- Tidak mampu mengenali seseorang
- Kejang-kejang
- Disorientasi ruang

Tumor pada Lobus Oksipital:
- Kehilangan penglihatan pada salah satu atau kedua belah mata
- Kejang-kejang

Tumor pada Lobus Temporal:
- Penurunan kemampuan bicara
- Kejang-kejang
- Kadang tanpa gejala sama sekali

Tumor pada Fosa Posterior:
- Gangguan berjalan
- Nyeri kepala
- Muntah

Tumor pada Cerebello Pontin Angie:
- Gangguan pendengaran

Tumor pada Batang Otak:
- Perubahan perilaku dan emosional (lebih sensitif, mudah tersinggung)
- Sulit bicara dan menelan
- Mengantuk
- Sakit kepala, terutama pada pagi hari
- Kehilangan pendengaran
- Kelemahan syaraf pada salah satu sisi wajah
- Kelemahan syaraf pada salah satu sisi tubuh
- Gerakan tak terkontrol
- Kehilangan penglihatan, kelopak mata menutup, juling, dll.
- Muntah

Tumor pada Selaput Otak:
- Sakit kepala
- Kehilangan pendengaran
- Gangguan bicara
- Inkontinensi (tidak mampu mengontrol buang air kecil/besar)
- Gangguan mental dan emosional (apatis, anarkis, dll)
- Mengantuk berkepanjangan
- Kejang-kejang
- Kehilangan penglihatan

Tumor pada Kelenjar Pituitary:
- Berhenti menstruasi (amenorrhea)
- Memproduksi air susu
- Impotensi

Tumor pada Hipotalamus:
- Gangguan perkembangan seksual pada anak-anak
- Kerdil
- Berhenti menstruasi (amenorrhea)
- Gangguan cairan dan elektrolit

Tumor pada Ventrikel:
- Hidrosefalus
- Leher kaku
- Kepala miring
- Nyeri kepala mendadak
- Penglihatan kabur
- Penurunan kesadaran

Walaupun mengalami salah satu atau beberapa gejala seperti di atas saja, belum tentu seseorang mengidap tumor atau kanker otak. Untuk memastikannya perlu dilakukan pemeriksaan langsung oleh dokter spesialis (bedah) syaraf dan pemeriksaan lanjutan seperti CT scan, MRI, angiogram, myelogram, spinal tap, serta biopsi. (Titah Rahayu/rumahkanker.com)

 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 5 dari 12
Tahukah Anda?

MENGAPA ORANG INDONESIA SAKIT KANKER?

"Indonesia sangat kaya tanaman berkhasiat antikanker, jauh lebih kaya daripada Cina, dan lebih bagus mutunya. Tetapi mengapa angka kejadian kanker di Indonesia lebih tinggi daripada Cina? Karena orang Indonesia suka sekali makan gorengan..."

(Prof. Dr. Li Peiwen, ahli kanker & obat tradisional senior Cina.)